1. Islamisasi di Nusantara dan Jawa

Sunday, June 20, 2010



Agama Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tidak saja wilayah timur tengah yang mengalami proses Islamisasi, tetapi juga kawasan lainnya, seperti Asia Tenggara, yang letak geografisnya lebih jauh dari pusat-pusat Islam di Timur Tengah meski Islam pinggiran atau Islam yang tidak otentik. Islam dikawasan ini justru mengalami penyebaran yang cukup besar dan bahkan memasukan peran strategis dalam pergulatan intelektual Islam di abad modern dengan ciri khasnya yang berbeda dengan kawasan Timur Tengah, Asia Selatan & Afrika (Mastuki, 2003 : 1).


Dapat dipastikan bahwa Islam sudah ada di negara bahari Asia Tenggara sejak awal zaman Islam. Dari masa khalifah ketiga, Utsman (644-56), utusan-utusan muslim dari tanah Arab mulai tiba di istana Cina. Setidaknya pada abad IX sudah ada ribuan pedagang muslim di kanton. Kontak-kontak antara Cina dan dunia Islam itu terpelihara terutama lewat jalur laut melalui perairan Indonesia. Karena itu, tidak aneh bila orang-orang Islam tampak memainkan peran penting dalam urusan-urusan Negara perdagangan yang besar di Sumatera yang beragama budha, Sriwijaya yang didirikan pada akhir abad VII. Antara tahun 904 dan pertengahan abad XII, utusan-utusan dari Sriwijaya ke istana Cina memiliki nama Arab. Pada tahun 1282, raja samudra di Sumatera bagian utara mengirim dua utusan bernama Arab ke Cina. Sayangnya, kehadiran muslim-muslim dari luar di kawasan Indonesia tidak menunjukan bahwa negara-negara Islam lokal telah berdiri, tidak juga bahwa telah terjadi perpindahan agama dan penduduk lokal dalam tingkatan yang cukup besar (Ricklefs M.C., 2009 : 4).

Uniknya justru Islam di Asia Tenggara justru tidak mengalami ekspansi seperti yang pernah terjadi kawasan timur tengah. Kedatangan Islam di Asia Tenggara tidak dengan kekuatan militer, melainkan dengan jalan damai. Thomas W Arnold dalam bukunnya The preaching of Islam (1650) menyebutkan Islam di Asia Tenggara sejatinya memiliki watak yang ramah, damai dan toleran. Hal ini disebabkan oleh penyebaran dan perkembangan historis Islam di Asia Tenggara yang berlangsung secara damai (Hasan Maarif Ambary, 1998 : 64).

Penyebaran Islam di Asia Tenggara berbeda dengan kawasan Asia timur tengah, Asia selatan dan afrika yang oleh sumber-sumber Islam dilakukan ekspansi. Penyebaran Islam di Asia Tenggara, terutama di Indonesia dilakukan melalui jalur perdagangan atau sufistik, sehingga menampilkan wajah yang damai (Hasan Maarif Ambary, 1998 : 64).

Agama Islam berkembang dengan pesat di kepulauan Indonesia dalam abad ke 15. Agama ini masuk ke Indonesia setelah terlebih dahulu melalui Gujarat dengan mengikuti jalan perdagangan. Seperti halnya pada agama budha dan hindu, agama Islampun telah diterima penduduk dengan jalan damai tanpa adanya suatu penolakan terutama oleh raja-raja dan kepala-kepala suku pantai (Kosoh Sastradinata, 1979 : 49).

Hubungan dengan asal-usul dan rute masuknya Islam ke Jawa terdapat juga teori yang berbeda satu sama lain, yaitu: Islam masuk ke Jawa berasal dari Arab secara langsung. Pendapat ini berdasarkan atas kenyataan bahwa mayoritas penduduk Indonesia berasal dari mazhab syafii, suatu mazhab yang pada waktu itu Sangat dominan di wilayah Semenanjung Arabia bagian selatan. Hal ini dikuatkan dengan anggapan bahwa pada waktu itu sudah ada rute pelayaran melalui Persia dan India ke wilayah timur. Pandangan ini dikemukakan oleh Nieman dan dikuatkan oleh Pijnaple. Dikalangan pengamat Indonesia, maka Hamka termasuk kedalam kategori yang menyatakan hal yang demikian (Hamka, 1961:19).

Islam masuk ke wilayah Jawa melalui jalur India. Pandangan ini antara lain dikemukakan oleh Snock Hurgronje ketika memberikan kuliah perpisahan di Universitas Leiden. Ia mengatakan bahwa sumatera dan Jawa mengenal Islam lewat kontak yang terjadi dengan pedagang-pedagang dari India. Pandangan ini paling tidak didukung oleh tiga hal: kenyataan adanya orang-orang Islam di wilayah India selatan dengan kepulauan Indonesia, dan adanya elemen Islam yang amat menonjol dalam kegiatan perdagangan. Pandangan ini didukung oleh kenyataan bahwa batu nisan Malik Ibrahim berasal dari Gujarat. John F.Cady dalam bukunya South East Asia, Its Historical Background mendukung pandangan ini atas dasar kenyataan adanya orang-orang Gujarat yang banyak mendiami kawasan kota pelabuhan di pantai utara Jawa (Purwadi, 2009:5).

Masuknya Islam ke Jawa melalui Kamboja. Pendapat ini didasarkan pada adanya hubungan antara kepulauan nusantara dengan kerajaan Campa. Pada tahun 1471 kerajaan tersebut mengalami kekalahan dan dari orang-orang Vietnam utara sehingga keluarga kerajaan mengungsi ke wilayah Malaka. Dari sini mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke wilayah-wilayah kota pelabuhan di Pantai Utara Jawa (Purwadi, 2009:5).

Islam masuk ke wilayah Jawa berasal dari cina. Pandangan ini didasarkan cerita dari Jawa timur yang berasal dari Serat Kandha yang menyatakan bahwa Raden Patah adalah anak seorang wanita Cina. Anggapan itu diperkuat oleh cerita yang beredar di Jawa Barat atau sejarah Banten yang menyebutkan sultan Demak sebagai Pati Raja Cina. Hikayat hasanudin disebutkan dengan nama Cek Ko Po berasal dari Mongolia. Dalam naskah melayu yang diterbitkan perlindungan dijelaskan secara rinci tentang elemen-elemen cina yang agak menonjol seperti bangunan klenteng-klenteng besar yang konon semula adalah masjid yang dibangun oleh muslim cina yang masuk wilayah Indonesia pada kerajaan maritim mereka. Naskah tersebut juga menjelaskan mengenai penyiar agama Islam yang ternyata adalah orang cina seperti yang diutarakan Slamet Muljana (1968) (Hasan Djafar, 2009:118).

Islam sudah masuk ke wilayah Jawa semenjak abad XI atas dasar inskripsi di Leran, Gresik yang menjelaskan adanya seorang yang bernama Fatimah Binti Maimun, yang wafat pada tahun 1082. Pandangan ini mengundang keberatan berbagai kalangan karena diduga batu nisan tersebut dibawa masuk ke Jawa setelah tahun yang tertera didalamnya. Ricklefs lebih jauh menyatakan bahwa yang dikubur di situ bukanlah orang Jawa, tetapi kemungkinannya adalah orang luar yang kebetulan melancong di Jawa dan meninggal di sana. Orang-orang Jawa yang ketika meninggal menggunakan nisan yang berasal dari luar Jawa sehingga dimungkinkan batu nisan yang ada di Leran tersebut juga dibawa dari luar Jawa setelah tahun yang tertera di dalam batu nisan tersebut (Ricklefs.M.C, 2009:6).

Islam sudah ada berada di Jawa semenjak abad XIV berdasarkan batu nisan yang terdapat di Trowulan. Batu nisan tersebut menunjukan tahun 1368 yang memberikan indikasi bahwa pada tahun itu sudah ada orang Jawa dari kalangan kerajaan yang memeluk Islam atas perlindungan kalangan kerajaan (Damais, 1968). Kenyataan ini memberi petunjuk bahwa masuknya Islam pada tahun-tahun sebelum itu sudah barang tentu melalui kawasan pesisir kemudian menuju ke wilayah pedalaman (Ricklefs.M.C, 2009:6).

Islam sudah berada di Jawa pada abad XV berdasarkan batu nisan dari makam Maulana Malik Ibrahim yang meninggal pada tahun 1419. beberapa pandangan menyatakan bahwa ia adalah seorang kaya berkebangsaan Persia yang bergerak di bidang perdagangan rempah-rempah. Pandangan lain menyatakan bahwa ia adalah salah seorang diantara Wali Sembilan yang dianggap penyebar Islam di pulau Jawa (Purwadi, 2009:4). Bahkan, menurut berita Ma-Huan tahun 1416 M, di pusat Majapahit maupun di pesisir, terutama di kota-kota pelabuhan, telah terjadi proses Islamisasi dan sudah pula terbentuk masyarakat muslim (Badri Yatim, 1993 : 197).

Oleh karena itu batu-batu nisan Jawa Timur tersebut memberi kesan bahwa beberapa orang anggota kaum elit Jawa memeluk agama Islam pada masa kerajaan Majapahit yang beragama Hindu-Budha sedang berada di puncak kejayaannya. Selain itu, batu-batu nisan tersebut merupakan bukti paling kuno yang masih ada tentang penduduk Jawa yang beragama Islam (Ricklefs.M.C, 2009:6).

Wali Sanga berarti sembilan orang Wali. Nama suatu dewan dakwah di kesultanan Demak pada abad ke-15 sampai 16 M. sebenarnya jumlah Wali Sanga bukan hanya sembilan. Jika ada anggota yang meninggal, maka diganti oleh Wali yang baru. Angka Sanga atau sembilan adalah angka keramat bagi orang Jawa, angka yang dianggap paling tinggi (Purwadi, 2009:8).

Diantara Wali Sanga itu mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pda saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterikatan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid (Rahimsah, 2002:5)

Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan (Purwadi, 2009:10).

0 komentar:

Post a Comment