Pasar sebagai Gerbang Islamisasi

Wednesday, July 14, 2010


Bangsa Arab yang tinggal di Jazirah Arab, daratannya dikelilingi oleh lautan. Namun terhimpit oleh samudra sahara pasir kuning yang tandus, mencoba bangkit dengan wahyu ilahi menjadi bangsa yang mampu menguasai bahari kelautan. Dengan mengarungi samudera dan melintasi benua, bangsa Arab membangun jalan laut niaga, guna meretas ajaran Islam untuk didakwahkan ke pelosok dunia (Ahmad Mansur, 2009 : 26).

Gerak sejarah Islam berputar Sangat menakjubkan. Meluas hingga ke batas cakrawala dunia. Bukan gerakan dari istana ke istana, melainkan dari pasar ke pasar. Para wirausahawan tidak hanya memasarkan komoditi barang dagangan, tetapi juga menjadikan pasar sebagai arena amal ajaran niaga Islami. Menumbangkan ajaran Politheisme dan digantikan dengan dengan ajaran tauhid. Dampaknya, aturan jahiliyah pun roboh, tidak mampu bertahan (Ahmad Mansur, 2009 : 27).

Pasar diperkirakan oleh sementara pihak hanya sebagai tempat memenuhi kebutuhan materi. Perkiraan seperti itu, ternyata tidak benar. Pasar tidak hanya tempat jual-beli barang, tetapi terjadi pula pertukaran bahasa, ekonomi, politik, ideoogi, sosial, budaya, ketahanan dan pertahanan. Bahkan, konversi agama pun berlangsung karena pengaruh pasar (Ahmad Mansur, 2009 : 27).

Sejak zaman prasejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal abad masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara (Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugraha Notosusanto, 1984:2).

Wilayah barat nusantara dan sekitar malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India. Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari maluku, dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian dijual pada pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatera dan Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 sering disinggahi pedagang asing, seperti Lamuri (Aceh), Barus dan Palembang di Sumatera, (Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa) (Taufik Abdullah, 1991: 34).

Selama abad ke XV di Jawa, Tuban memegang peranan emporium dari perdagangan antara barat atau turusan malaka dan timur (jurusan maluku). Kecuali daerah agraris yang luas sebagai pedalamannya, pembuatan kapal di dekatnya (Rembang, Lasem) memperkuat kedudukan itu kemudian peranan itu beralih ke Gresik (Sartono Kartodirjo, 1987 : 10).

2. Saluran dan Cara-cara Islamisasi di Nusantara

Tuesday, July 6, 2010


Menurut Uka Tjandrasasmita (1984), saluran-saluran Islamisasi yang beerkembang ada enam, yaitu :
a. Saluran Perdagangan
Pada taraf permulaan, saluran Islamisasi adalah perdagangan. Kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 M. membuat pedagang-pedagang muslim (Arab, Persia dan India) tidak turut ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian barat, tenggara dan timur benua asia. Saluran Islamisasi melalui perdagangan ini Sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham. Mengutip pendapat Tome Pires berkenaan dengan saluran Islamisasi melalui perdagangan ini di pesisir pulau Jawa, Uka Tjandrasasmita menyebutkan bahwa para pedagang muslim banyak yang bermukim di pesisir pulau Jawa yang penduduknya ketika itu mash kafir. Mereka berhasil mendirikan masjid-masjid dan mendatangkan mullah-mullah dari luar sehingga jumlah mereka banyak, dan karenanya anak-anak muslim itu menjadi orang Jawa dan kaya-kaya. Di beberapa tempat, penguasa-penguasa Jawa yang menjabat sebagai bupati-bupati Majapahit yang ditempatkan di pesisir utara Jawa banyak yang masuk Islam, bukan hanya karena faktor politik dalam negeri yang sedang goyah, tetapi terutama karena faktor hubungan ekonomi dengan pedagang-pedagang muslim. Dalam perkembangan selanjutnya, mereka kemudian mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di tempat-tempat tinggalnya.
b. Saluran Perkawinan
dari sudut pandang ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih baik dari kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi terutama putra-putri bangsawan, tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu.sebelum kawin, mereka diIslamkan lebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka makin luas. Akhirnya timbul kampung-kampung, daerah-daerah, dan kerajaan-kerajaan muslim. Dalam perkembangan berikutnya, ada pula wanita muslim yang dikawin oleh keturunan bangsawan, tentu saja setelah yang terakhir ini masuk Islam terlebih dahulu. Jalur perkawinan ini lebih menguntungkan apabila terjadi antara saudagar muslim dengan anak bangsawan atau anak raja dan anak adipati, karena raja adipati atau bangsawan itu kemudian turut mempercepat proses Islamisasi. Demikian yang terjadi antara Raden Rahmat atau Sunan Ngampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Djati dengan Putri Kawunganten, Brawijaya dengan Putri Campa yang menurunkan Raden Patah (raja pertama Demak), dan lain-lain.
c. Saluran Tasawuf
Pengajaran-pengajaran tasawuf atau para sufi, mengajarkan teosofi yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat indonesia. Mereka mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Diantara mereka para ada juga yang mengawini putri-putri bangsawan setempat. Dengan tasawuf, bentuk Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam fikiran mereka yang sebelumnya menganut agama hindu, sehingga agama yang baru itu mudah dimengerti dan diterima. Diantara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syaikh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti ini masih berkembang di abad ke-19 M bahkan di abad ke-20 M ini.
d. Saluran Pendidikan
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai dan ulama-ulama. Di pesantren atau pondok itu, calon ulama, guru agama, dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung-kampung masing-masing kemudian berdakwah ke tempat tertentu mengajarkan Islam. Misalnya, pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya dan Sunan Giri di Giri. Keluaran Pesantren Giri banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan agama Islam.
e. Saluran Kesenian
Saluran Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang. Dikatakan, sunan kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita mahabharata dan Ramayana, tetapi dari cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lain juga dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad, dan sebagainya), seni bangunan, dan seni ukir.
f. Saluran Politik
Di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Di samping itu, baik di sumatera dan Jawa maupun di Indonesia bagian timur, demi kepentingan politik kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non-Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam.

1. Islamisasi di Nusantara dan Jawa

Sunday, June 20, 2010



Agama Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tidak saja wilayah timur tengah yang mengalami proses Islamisasi, tetapi juga kawasan lainnya, seperti Asia Tenggara, yang letak geografisnya lebih jauh dari pusat-pusat Islam di Timur Tengah meski Islam pinggiran atau Islam yang tidak otentik. Islam dikawasan ini justru mengalami penyebaran yang cukup besar dan bahkan memasukan peran strategis dalam pergulatan intelektual Islam di abad modern dengan ciri khasnya yang berbeda dengan kawasan Timur Tengah, Asia Selatan & Afrika (Mastuki, 2003 : 1).


Dapat dipastikan bahwa Islam sudah ada di negara bahari Asia Tenggara sejak awal zaman Islam. Dari masa khalifah ketiga, Utsman (644-56), utusan-utusan muslim dari tanah Arab mulai tiba di istana Cina. Setidaknya pada abad IX sudah ada ribuan pedagang muslim di kanton. Kontak-kontak antara Cina dan dunia Islam itu terpelihara terutama lewat jalur laut melalui perairan Indonesia. Karena itu, tidak aneh bila orang-orang Islam tampak memainkan peran penting dalam urusan-urusan Negara perdagangan yang besar di Sumatera yang beragama budha, Sriwijaya yang didirikan pada akhir abad VII. Antara tahun 904 dan pertengahan abad XII, utusan-utusan dari Sriwijaya ke istana Cina memiliki nama Arab. Pada tahun 1282, raja samudra di Sumatera bagian utara mengirim dua utusan bernama Arab ke Cina. Sayangnya, kehadiran muslim-muslim dari luar di kawasan Indonesia tidak menunjukan bahwa negara-negara Islam lokal telah berdiri, tidak juga bahwa telah terjadi perpindahan agama dan penduduk lokal dalam tingkatan yang cukup besar (Ricklefs M.C., 2009 : 4).

Uniknya justru Islam di Asia Tenggara justru tidak mengalami ekspansi seperti yang pernah terjadi kawasan timur tengah. Kedatangan Islam di Asia Tenggara tidak dengan kekuatan militer, melainkan dengan jalan damai. Thomas W Arnold dalam bukunnya The preaching of Islam (1650) menyebutkan Islam di Asia Tenggara sejatinya memiliki watak yang ramah, damai dan toleran. Hal ini disebabkan oleh penyebaran dan perkembangan historis Islam di Asia Tenggara yang berlangsung secara damai (Hasan Maarif Ambary, 1998 : 64).

Penyebaran Islam di Asia Tenggara berbeda dengan kawasan Asia timur tengah, Asia selatan dan afrika yang oleh sumber-sumber Islam dilakukan ekspansi. Penyebaran Islam di Asia Tenggara, terutama di Indonesia dilakukan melalui jalur perdagangan atau sufistik, sehingga menampilkan wajah yang damai (Hasan Maarif Ambary, 1998 : 64).

Agama Islam berkembang dengan pesat di kepulauan Indonesia dalam abad ke 15. Agama ini masuk ke Indonesia setelah terlebih dahulu melalui Gujarat dengan mengikuti jalan perdagangan. Seperti halnya pada agama budha dan hindu, agama Islampun telah diterima penduduk dengan jalan damai tanpa adanya suatu penolakan terutama oleh raja-raja dan kepala-kepala suku pantai (Kosoh Sastradinata, 1979 : 49).

Hubungan dengan asal-usul dan rute masuknya Islam ke Jawa terdapat juga teori yang berbeda satu sama lain, yaitu: Islam masuk ke Jawa berasal dari Arab secara langsung. Pendapat ini berdasarkan atas kenyataan bahwa mayoritas penduduk Indonesia berasal dari mazhab syafii, suatu mazhab yang pada waktu itu Sangat dominan di wilayah Semenanjung Arabia bagian selatan. Hal ini dikuatkan dengan anggapan bahwa pada waktu itu sudah ada rute pelayaran melalui Persia dan India ke wilayah timur. Pandangan ini dikemukakan oleh Nieman dan dikuatkan oleh Pijnaple. Dikalangan pengamat Indonesia, maka Hamka termasuk kedalam kategori yang menyatakan hal yang demikian (Hamka, 1961:19).

Islam masuk ke wilayah Jawa melalui jalur India. Pandangan ini antara lain dikemukakan oleh Snock Hurgronje ketika memberikan kuliah perpisahan di Universitas Leiden. Ia mengatakan bahwa sumatera dan Jawa mengenal Islam lewat kontak yang terjadi dengan pedagang-pedagang dari India. Pandangan ini paling tidak didukung oleh tiga hal: kenyataan adanya orang-orang Islam di wilayah India selatan dengan kepulauan Indonesia, dan adanya elemen Islam yang amat menonjol dalam kegiatan perdagangan. Pandangan ini didukung oleh kenyataan bahwa batu nisan Malik Ibrahim berasal dari Gujarat. John F.Cady dalam bukunya South East Asia, Its Historical Background mendukung pandangan ini atas dasar kenyataan adanya orang-orang Gujarat yang banyak mendiami kawasan kota pelabuhan di pantai utara Jawa (Purwadi, 2009:5).

Masuknya Islam ke Jawa melalui Kamboja. Pendapat ini didasarkan pada adanya hubungan antara kepulauan nusantara dengan kerajaan Campa. Pada tahun 1471 kerajaan tersebut mengalami kekalahan dan dari orang-orang Vietnam utara sehingga keluarga kerajaan mengungsi ke wilayah Malaka. Dari sini mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke wilayah-wilayah kota pelabuhan di Pantai Utara Jawa (Purwadi, 2009:5).

Islam masuk ke wilayah Jawa berasal dari cina. Pandangan ini didasarkan cerita dari Jawa timur yang berasal dari Serat Kandha yang menyatakan bahwa Raden Patah adalah anak seorang wanita Cina. Anggapan itu diperkuat oleh cerita yang beredar di Jawa Barat atau sejarah Banten yang menyebutkan sultan Demak sebagai Pati Raja Cina. Hikayat hasanudin disebutkan dengan nama Cek Ko Po berasal dari Mongolia. Dalam naskah melayu yang diterbitkan perlindungan dijelaskan secara rinci tentang elemen-elemen cina yang agak menonjol seperti bangunan klenteng-klenteng besar yang konon semula adalah masjid yang dibangun oleh muslim cina yang masuk wilayah Indonesia pada kerajaan maritim mereka. Naskah tersebut juga menjelaskan mengenai penyiar agama Islam yang ternyata adalah orang cina seperti yang diutarakan Slamet Muljana (1968) (Hasan Djafar, 2009:118).

Islam sudah masuk ke wilayah Jawa semenjak abad XI atas dasar inskripsi di Leran, Gresik yang menjelaskan adanya seorang yang bernama Fatimah Binti Maimun, yang wafat pada tahun 1082. Pandangan ini mengundang keberatan berbagai kalangan karena diduga batu nisan tersebut dibawa masuk ke Jawa setelah tahun yang tertera didalamnya. Ricklefs lebih jauh menyatakan bahwa yang dikubur di situ bukanlah orang Jawa, tetapi kemungkinannya adalah orang luar yang kebetulan melancong di Jawa dan meninggal di sana. Orang-orang Jawa yang ketika meninggal menggunakan nisan yang berasal dari luar Jawa sehingga dimungkinkan batu nisan yang ada di Leran tersebut juga dibawa dari luar Jawa setelah tahun yang tertera di dalam batu nisan tersebut (Ricklefs.M.C, 2009:6).

Islam sudah ada berada di Jawa semenjak abad XIV berdasarkan batu nisan yang terdapat di Trowulan. Batu nisan tersebut menunjukan tahun 1368 yang memberikan indikasi bahwa pada tahun itu sudah ada orang Jawa dari kalangan kerajaan yang memeluk Islam atas perlindungan kalangan kerajaan (Damais, 1968). Kenyataan ini memberi petunjuk bahwa masuknya Islam pada tahun-tahun sebelum itu sudah barang tentu melalui kawasan pesisir kemudian menuju ke wilayah pedalaman (Ricklefs.M.C, 2009:6).

Islam sudah berada di Jawa pada abad XV berdasarkan batu nisan dari makam Maulana Malik Ibrahim yang meninggal pada tahun 1419. beberapa pandangan menyatakan bahwa ia adalah seorang kaya berkebangsaan Persia yang bergerak di bidang perdagangan rempah-rempah. Pandangan lain menyatakan bahwa ia adalah salah seorang diantara Wali Sembilan yang dianggap penyebar Islam di pulau Jawa (Purwadi, 2009:4). Bahkan, menurut berita Ma-Huan tahun 1416 M, di pusat Majapahit maupun di pesisir, terutama di kota-kota pelabuhan, telah terjadi proses Islamisasi dan sudah pula terbentuk masyarakat muslim (Badri Yatim, 1993 : 197).

Oleh karena itu batu-batu nisan Jawa Timur tersebut memberi kesan bahwa beberapa orang anggota kaum elit Jawa memeluk agama Islam pada masa kerajaan Majapahit yang beragama Hindu-Budha sedang berada di puncak kejayaannya. Selain itu, batu-batu nisan tersebut merupakan bukti paling kuno yang masih ada tentang penduduk Jawa yang beragama Islam (Ricklefs.M.C, 2009:6).

Wali Sanga berarti sembilan orang Wali. Nama suatu dewan dakwah di kesultanan Demak pada abad ke-15 sampai 16 M. sebenarnya jumlah Wali Sanga bukan hanya sembilan. Jika ada anggota yang meninggal, maka diganti oleh Wali yang baru. Angka Sanga atau sembilan adalah angka keramat bagi orang Jawa, angka yang dianggap paling tinggi (Purwadi, 2009:8).

Diantara Wali Sanga itu mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pda saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterikatan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid (Rahimsah, 2002:5)

Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan (Purwadi, 2009:10).

Pengertian Sejarah

Tuesday, June 9, 2009

Kata Sejarah berasal dari bahasa arab, yaitu syajarotun yang artinya pohon. menurut bahasa arabbahwa kata sejarah diibaratkan pohon yang terus tumbuh berkembang, mengakar sampai ranting yang terkecil. karena sejarah selalu terus berkembang dari tingkat yang sederhana sampai ketingkat yang lebih kompleks atau ke tingkat yang lebih maju.
Dalam bahasa inggris kata sejarah adalah history yang berarti masa lampau umat manusia. sedangkan dalam bahasa jerman adalah geschicht yang berarti sesuatu yang telah terjadi. kedua kata itu dapat memberi arti yang sesungguhnya tentang sejarah, yaitu sesuatu yang telah terjadi di masa lampau dalam kehidupan umat manusia. dengan demikian sejarah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat manusia dan bahkan berkembang sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia dari tingkat sederhana ke tingkat yang lebih maju atau modern.